
Delapan bulan dikerjakan. Kodenya jalan, testnya hijau, servernya stabil. Dua minggu setelah rilis, dashboard menunjukkan 140 pengguna aktif dari target 5.000. Fitur yang paling lama dikerjakan cuma dipakai sebelas orang.
Tidak ada yang salah secara teknis. Yang salah adalah tidak ada yang pernah benar-benar bertanya apakah orang butuh ini.
Kegagalan software jarang datang dari satu ledakan besar. Dia menumpuk dari requirement yang kabur, estimasi yang dianggap janji, review yang antre tiga hari, testing yang dipotong karena kejar tayang, dan utang teknis yang tidak pernah dicatat. Semuanya terasa seperti kompromi wajar saat terjadi. Baru terasa mahal setelah terlambat.
Agile SDLC ditulis untuk membuat pola-pola itu kelihatan lebih awal.
Isinya 30 bab yang mengikuti perjalanan satu ide dari saat dia masih berupa keluhan pengguna, sampai jadi sesuatu yang berjalan di produksi dan dipantau setiap hari. Discovery, requirement, prioritas, estimasi, desain, arsitektur, development workflow, QA, CI/CD, rilis, monitoring, retrospective, sampai cara menyusun proses kerja sendiri.
Setiap bab punya bentuk yang sama supaya gampang dipakai berulang: cerita pembuka yang mungkin terasa familiar, penjelasan konsep dengan diagram, contoh nyata, daftar kesalahan yang sering terjadi, checklist untuk memeriksa kondisi tim kamu, satu latihan yang bisa dikerjakan minggu ini, pertanyaan refleksi, dan ringkasan satu halaman.
Di bagian akhir ada 16 template siap pakai — user story, acceptance criteria, Definition of Done, sprint planning, ADR, test plan, release checklist, incident report, postmortem, retrospective, dan lainnya. Semuanya sengaja dibuat pendek, karena template panjang cenderung tidak diisi.
Developer, QA, designer UI/UX, product manager, scrum master, tech lead, founder startup, dan mahasiswa IT.
Kamu tidak perlu jadi praktisi Agile bersertifikat untuk membaca ini. Cukup pernah terlibat di satu proyek software dan pernah bertanya-tanya kenapa hal yang kelihatannya sederhana bisa jadi begitu rumit.
Beberapa hal supaya harapannya pas:
Ini cocok untuk yang baru mulai? Cocok. Konsepnya dijelaskan dari dasar, dan istilah teknis selalu diterjemahkan ke situasi nyata dulu sebelum dinamai. Tapi buku ini juga bukan buku pemula murni — bagian arsitektur, CI/CD, dan monitoring akan lebih terasa gunanya kalau kamu sudah pernah menyentuh proyek yang jalan di produksi.
Saya bukan developer. Masih relevan? Iya, terutama bab tentang discovery, prioritas, requirement, ritual tim, dan metrik. Bab yang paling teknis ada di 14–19; kamu bisa melewatinya tanpa kehilangan alur.
Bedanya dengan buku Scrum yang sudah banyak? Buku ini tidak berhenti di ritual dan peran. Setengah isinya justru soal hal yang biasanya tidak dibahas di materi Scrum: arsitektur yang murah diubah, ukuran pull request, migrasi database tanpa downtime, alerting yang tidak melelahkan, dan cara menegosiasikan prioritas tanpa berdebat.
Ada versi PDF atau cetak? Belum. Saat ini hanya EPUB.
Bisa dibaca di HP? Bisa. EPUB menyesuaikan ukuran layar, jadi teksnya tetap nyaman di layar kecil tanpa perlu zoom.
Bisa dipakai untuk tim? Bisa, dan bab "Cara Membaca Buku Ini" memberi saran formatnya: satu bab per minggu, dibahas 30 menit, fokus ke bagian checklist dan pertanyaan refleksi — dua bagian itu memang dirancang untuk memunculkan perbedaan pandangan di dalam tim.
Unduh langsung setelah pembayaran. Format EPUB, bisa dibaca di HP, tablet, atau laptop.
Adam Mudianto — admuiux.com
Garansi 7 hari uang kembali. Nggak cocok atau file bermasalah? Aku perbaiki atau kembalikan dana — dijamin langsung oleh Adam. Selengkapnya
Sampai Hujan Reda (Part 1)Rp 20.000
Memahami dan Membangun AI sendiriRp 50.000
Setelah Hujan Reda (Part 2)Rp 20.000
KANTOR TOXIC, AUMAN SRIGALAGratis
Referensi Palet WarnaRp 15.000Adam Mudianto
Coder · Writter · Comedian · (self claim lol 😁)
Produk digital original dari ide dan kreasi sendiri. Ada pertanyaan sebelum beli? Hubungi langsung.